Denni Purbasari: Anak Muda Harus Act, Bukan Hanya Talk
TANGERANG SELATAN - Kantor Staf Presidenan (KSP) kembali menyelenggarakan ImpACT Talks!, wadah bertukar pikiran dan berbagi inspirasi dengan mahasiswa seputar kepemimpinan, karier, dan beasiswa pendidikan. ImpACT Talks! kali ini bekerja sama dengan Universitas Prasetiya Mulya di Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Selasa, 26 Maret 2019.
“Tim saya ingin berbagi pengalaman, syukur-syukur bisa menjadi inspirasi teman-teman semua. ImpACT Talks!,yang digedein ACT, karena saya ingin teman-teman bukan hanya ngomong ide, tapi lakukan. Anak muda harus act, jangan hanya talk!” kata Deputi III Kepala Staf Kepresidenan Denni Puspa Purbasari di hadapan 250 mahasiswa peserta diskusi ini.
Melalui ImpACT Talks!, KSP berharap bisa memotivasi para mahasiswa untuk tidak takut mencoba banyak hal dan berkontribusi secara positif bagi kemajuan Indonesia. Sebab, para mahasiswa inilah yang kelak menjadi pemimpin negeri, agen perubahan, dan penggerak ekonomi.
Sebelum bertandang ke Universitas Prasetiya Mulya, KSP sudah menggelar acara serupa di dua universitas lainnya di Jakarta, yakni Universitas Atmajaya dan Universitas Paramadina.
ImpACT Talks! kali ini menghadirkan tiga narasumber dari Kedeputian III KSP yang membidangi kajian dan pengelolaan isu ekonomi strategis. Mereka adalah Armedya Dewangga, Aditya Mandarizky, dan Grace Dewi. Ketiganya memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja yang beragam sebelum bergabung dengan KSP. Selain dari KSP, hadir juga membagikan pengalamannya, Elisa Suteja, alumni Prasetiya Mulya yang kini menjadi Deputy CEO Fore Coffee.
"Saya harapkan, kalian sebagai mahasiswa Prasetiya Mulya mempersiapkan diri sebabai pemimpin masa depan. Semoga bisa mendapatkan inspirasi dari sumber yang hadir saat ini,” pesan Yudi Samyudia, Wakil Rektor I Prasetiya Mulya, saat membuka acara.
Dampak sosial lebih besar
Armed, sapaan akrab Armedya Dewangga, bercerita sebelum bekerja di KSP, ia sempat bekerja sebagai creative communication specialist di beberapa perusahaan multi-nasional yang tentu saja bergaji besar. Ia memutuskan bergabung dengan KSP lantaran ingin membuat dampak sosial lebih besar lewat karya-karyanya.
“Flashback ketika kuliah dulu, saya belajar, advertising itu untuk mengubah perilaku. Advertising bukan saja untuk membuat produk terlihat bagus dan menarik. Tapi di balik itu, kita membuat orang yakin bahwa apa yang dia lakukan, dia beli, itu adalah yang terbaik,” papar lulusan desain komunikasi visual, Institut Teknologi Bandung ini.
Armed mengatakan, pakem advertising itu bisa dipakai untuk kampanye sosial yang berdampak besar ke jutaan masyarakat Indonesia. Kebetulan, isu-isu sosial menjadi minat Armed. Sebelum bekerja di perusahaan swasta, ia pernah membuat kampanye agar anak kembali menyukai permainan tradisional dan kampanye untuk Kepolisian tentang cegah tindakan kriminal. Kini, ketika berkarya di KSP, dia ikut berkiprah dalam kampanye cegah stunting nasional.
Agak berbeda cerita Aditya Mandarizky yang biasa dipanggil Adit. Dalam meniti karier, ia terbilang kutu loncat tapi masih di bidang yang sejalan, yakni seputar industri keuangan. "Kenapa saya pindah-pindah di dalam industri yang sama, karena ilmu finance itu sangat luas. Positifnya, dengan pindah-pindah gini, jadi kutu loncat, kita punya point of view cukup luas. Kita memandang suatu isu tidak dari satu sudut pandang saja,” jelas Adit.
Jadi ekor naga atau kepala ayam?
Kendati punya latar belakang yang berbeda-beda, keempat narasumber sepakat bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, seseorang harus memiliki kemampuan komunikasi dan persuasi yang mumpuni. “Karena as a good leader, kita jalan bersama. Bukan hanya nyuruh-nyuruh orang,” kata Elisa, yang kini mengelola 27 gerai Fore Coffee.
Armed menambahkan, dengan kemampuan komunikasi dan persuasi yang baik, seorang leader bisa mempengaruhi orang untuk melakukan sesuai yang tujuan. Sehingga, dampak yang dihasilkan pun bisa besar.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya totalitas dalam setiap hal yang kita lakukan. “Kalian mau jadi ekor dari naga atau kepala dari ayam? Dua-duanya tidak ada yang salah. Yang terpenting adalah totalitas. Asalkan punya totalitas, pasti kalian akan mempunyai impact yang besar, luas,” ujar Armed.
Faktor lain yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah kemampuan membuat keputusan. Sebab, keputusan ini menentukan ke arah mana sebuah lembaga atau perusahaan akan bergerak; apakah maju berkembang atau jatuh berantakan.
Pentingnya sosok mentoring
Dalam mengembangkan karier, Grace Dewi punya satu tips menarik terkait pengambilan keputusan, yakni berani mencoba dan mengambil risiko. Penerima beasiswa Fulbright ini bercerita, risiko yang pernah ia ambil adalah ketika ia nekad mengambil langsung program S-3 ketika baru lulus S-1 dari University of California, Berkeley.
Hal penting yang Grace pelajari selama meniti karier adalah pentingnya sosok seorang mentor. Ia, misalnya, memutuskan keluar dari sebuah lembaga riset ternama untuk bekerja di KSP karena melihat Denni sebagai sosok mentor yang akan bisa membuatnya berkembang. “Saya dengan tidak tahu malunya waktu ketemu Bu Denni menyodorkan kartu nama saya,” kenang Grace.
Elisa menambahkan, membuka jaringan dan wawasan juga penting untuk pengembangan karier. Jaringan dan wawasan ini bisa bertambah luas ketika kita membuka diri, misalnya dengan mengikuti kompetisi. Cara ini juga bisa memunculkan bayangan bagi mereka yang belum tahu ke mana nanti setelah kuliah. “Yang penting, please act and act fast, and always learn!” saran Elisa.
Pendidikan lanjut juga menjadi salah faktor untuk mengembangkan karier. Bagi mereka yang tidak punya cukup dana, saat ini banyak sekali alternatif beasiswa. Bagi mereka yang ingin mencari beasiswa, Adit punya kiat. Pertama, jangan malas mencari informasi sebanyak-banyaknya. Yang kedua, jangan patah semangat kalau gagal. “Coba lagi. Sebab, setiap kali gagal, ada learning curve-nya. Setiap kali gagal, kita bisa belajar, apa yang kurang dan kita perbaiki terus, sampai kita dapat beasiswa,” ungkap Adit.
Sebelum mengakhiri diskusi, Grace berpesan, “You have to work as if everything depends on you. Tapi setelah melakukan semua, kamu harus bersikap as if everything depends on God.”







Comments